Kenapa Filsafat Harus disalahkan?

Posted: May 21, 2012 in Bekal Bertamasya

Suatu hari saya hadir dalam sebuah forum diskusi yang kebetulan pada waktu itu yang memberikan materi adalah DR. Adian Husaini, tentang Bahayanya Islam Liberal. Pada sesi tanya jawab ada seorang dosen Universitas Islam Negeri yang bertanya, yang intinya adalah beliau menyalahkan filsafat karena telah banyak mempengaruhi para mahasiswa untuk berpikir liberal dan telah membuat mahasiswa sampai meninggalkan kewajibannya menyelesaikan akademik. Dan beliau mempertanyakan kenapa Filsafat harus diajarkan di perguruan tinggi?

“Bagaimana tidak diajarkan, rektornya saja orang Filsafat.” Tukas beliau.

Saya maklumi beliau berpendapat demikian karena mungkin sudah gerah dan jengkel dengan maraknya pemikiran liberal yang sudah menjamur di perguruan tinggi. Tapi saya tidak sepakat kalau dalam masalah ini  yang disalahkan adalah filsafatnya, apalagi kalau membuat statement bahwa filsafat adalah biang kerok dari pemikiran liberal, hingga tak jarang saya dengar ketika orang menyebut filsafat yang terbenak dalam dirinya adalah kengerian.

Perlu kita ketahui bahwa filsafat hanyalah sebuah ilmu, Islam tidak mengharamkan kita untuk mempelajari filsafat. Filsafat hanyalah sebuah metode berpikir, filsafat adalah salah satu cara untuk memahami hakikat segala sesuatu. Dan yang maraknya  pemikiran liberal di seluruh perguruan tinggi adalah bukan salah filsafat sepenuhnya tapi juga salah dari setiap individu yang mempelajari filsafat. Dalam mempelajari filsafat seharusnya dibarengi dengan keimanan dan akidah yang kuat, juga tidak belajar Islam dengan orang barat (kafir). Sekarang banyak sarjana Islam belajar tentang Islam ke barat (kafir). Sangat disayangkan mengapa harus belajar Islam sama orang kafir, seharusnya kitalah yang mengajarkan mereka!

Dan perlu diketahui bahwa pengiriman para sarjana Islam untuk belajar Islam adalah sebuah agenda kristenisasi global, yakni ingin menghancurkan Islam dari dalam, pengaburan akidah umat Islam dengan  liberalisasi, pluralisme, serta isu-isu kesetaraan gender yang sedang nge-trend saat ini. Apakah mereka tidak tahu kalau kesetaraan gender yang mereka usung adalah kesetaraan gender ala barat? Waallahu a’lam.

Pengalaman saya ketika masuk ruang kuliah, ada seorang dosen dalam pengantar kuliahnya mengatakan bahwa untuk mempelajari filsafat harus kita tanggalkan dulu kepercayaan kita terhadap agama. Kita harus bebas dari segala pemikiran yang dogmatif, dengan kata lain yang lebih ekstrim adalah “gantunglah Tuhanmu di belakang pintu”. Di sana seakan pikiran kita berada di dalam mesin cuci, kemudian  otak kita akan dicuci bersih dan dihancurkannya pondasi-pondasi kepercayaan kita yang sudah kita yakini dari dulu.

Saya hanya bisa berdoa dan mohon kepada sang menciptakan akal untuk selalu memberikan saya pencerahan dan hidayah-Nya agar terhindar dari pemikiran-pemikiran yang bisa keluar dari ajaran agama Islam yang benar sebagaimana Rasulullah wariskan kepada umatnya. Terakhir yang ingin saya katakan bahwa belajar filsafat itu tidak mudah, akan tetapi menjadi salah satu golongan manusia yang masuk surga itu jauh amat sukar. Semoga Allah selalu memberikan kita semua, khususnya muslimin kekuatan dan tidak lantas mempelajari filsafat yang sesat. Allahuma sahhil ‘umurana. Amin.

Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya

Semoga damai bersama, berkenan, bermanfaat dan menginspirasi

Amin

***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s