Telah Terbit…!!!

Buku Elektronik (e-Book) sederhana, berkualitas dan good looking

yang siap untuk menghangatkan suasana ruang baca

sekaligus ruang dengar rekan-rekan…

 

Virus Wars: Balas Dengan Karya…!!!

Antologi Puisi:

Komunitas Organisasi

Taman Sastra dan Budaya (Tamasya) Musafir Kata

Judul               : Virus Wars: Balas Dengan Karya…!!!

Kategori          : Fiksi/ Puisi (Antologi)

Penulis             : Civitas Academica/ Keluarga Tamasya Musafir Kata

Pengantar        : Nofia Fitri aka Bunga_Mataharry

  Pemerhati Cyber-Politics dan Penulis “The Manuscript 10v3 Codes”

  serta “Cerita-cerita Casper_SPY” [edisi free E-book].

Penerbit           : Tamasya Digital Publishing

Terbit               : Juni, 2012

Halaman          : –xiv, –59

Lisensi             : Perpustakaan e-Book Indonesia

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, makhluk yang paling sempurna di antara makhluk lainnya di muka bumi ini. Selain memiliki ciri-ciri fisik dan karakteristik yang khas, manusia juga dilengkapi dengan kemampuan intelegensia dan daya nalar yang tinggi sehingga menjadikan ia mampu berpikir, berbuat dan bertindak ke arah perkembangannya sebagai manusia utuh. Kemampuan itulah yang membuat manusia mampu berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya, bahkan sebuah sistem komputer. Kiranya tidaklah berlebihan jika puisi-puisi dalam antologi ini adalah inovasi karya sastra yang patut diacungi jempol. Penulis-penulis sudah dapat menggunakan kelebihannya untuk berinteraksi dengan sebuah sistem yang kemudian hasil dari komunikasi tersebut menjadi puisi.

(Prof. Dr. H.Nurhabibi Rahman, M.Pd. – Redaktur Jurnal Sastra Makassar)

Untuk selengkapnya silakan rekan-rekan langsung saja download secara gratis di:

Klik di sini untuk Via EXE (bisa dibaca secara offline, di-install hanya beberapa detik)

Klik di sini untuk Via HTML (bisa dibaca secara offline dan online, tidak perlu diinstal)

Salam SGB dan tengat berkarya

***

Telah Terbit…!!!

Buku Elektronik (e-Book) sederhana, berkualitas dan good looking

yang siap untuk menghangatkan suasana ruang baca

sekaligus ruang dengar rekan-rekan…

 

Sambut-Menyambung Menjadi Cinta

Antologi Puisi Kolaborasi

Judul               : Sambut-Menyambung Menjadi Cinta

Kategori          : Fiksi/ Puisi (Antologi)

Penulis             : Tubagus Rangga Efarasti, Margaretta Christita,

  Ila Rizky Nidiana, Gadis Kupu Kupu,

  Adiba Ad-Dawiyah, Elsa Khairun Nissa

Penerbit           : Tamasya Digital Publishing

Terbit               : Juni, 2012

Halaman          : –xi, –20

Lisensi             : Perpustakaan e-Book Indonesia

Menulis?! Apakah yang terlintas dalam benak Anda jika mendengar kata menulis? Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Sedangkan pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam tulisan. Lalu tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang saling berkorelasi satu dengan lainnya adalah satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.

Selengkapnya silakan rekan-rekan langsung saja download secara gratis di:

Klik di sini untuk Via EXE (bisa dibaca secara offline, di-install hanya beberapa detik)

Klik di sini untuk Via HTML (bisa dibaca secara offline dan online, tidak perlu diinstal)

Salam SGB dan tengat berkarya

***

Lagu Tubagus Rangga Efarasti – Hari Berangkat Dewasahanyalah untuk media promosi, jadi silahkan beli lagu aslinya di langitmusik.com/musiklegal.com dan beli CD aslinya di CD Store terdekat di kota Anda untuk menghargai karyanya.

 

Info
Nama Penyanyi: Tubagus Rangga Efarasti

Judul Lagu: Hari Berangkat Dewasa

Album: Tamasya Cinta

Label: Tamasya Musafir Kata

Genre: Hip Hop

Tahun: 2012

 

 

 

 

Sebuah Musikalisasi Puisi Sederhana:

Tubagus Rangga Efarasti

Hari Berangkat Dewasa

Karya: Moh. Wan Anwar

lihatlah hari berangkat dewasa

matahari mengajari kita agar tak berdusta

membagikan kasih sayangnya kepada setiap cinta

lihatlah jiwa kita yang terengah-engah

mendaki seluruh perjalanan. Menatap pada

kehidupan yang buram dan menyakitkan

“Peristiwa-peristiwa siang ini bukanlah

mimpi!” seru seseorang di pinggir jalan

tapi perjalanan ini penuh dengan borok

dan luka. Kulit tubuh kian melepuh

dan kita menjadi kelu bila bicara

kota menjadi pucat. Gedung-gedung membisu

kita membutuhkan bara untuk membakar

tubuh-tubuh yang terlanjur terbaring kaku

Bandung, 1993

 

 

Puisi ini terhimpun dalam kumpulan puisi pilihan 2001-1991 “Sebelum Senja Selesai” karya Moh. Wan Anwar. Musikalisasi puisi ini aku persembahkan khususnya teruntuk Alm.Moh. Wan Anwar (Penyair Banten) yang lahir di Cianjur tahun 1970 dan wafat 23 Nopember 2009. Semoga Almarhum berada dalam kasih sayang Allah SWT dan karya-karyanya menjadi amal ibadah serta menginspirasi sepanjang masa. Amin…

 

Untuk rekan-rekan di Rumah Dunia, khususnya Guru Besar TRE (Mas Gol A Gong, Mbak dan Mas Toto ST Radik). Untuk Tamta, Tamtor yang ada di Tamasya Musafir Kata. Untuk komunitas Hip Hop seluruh Indonesia, khususnya Guru Besar TRE (8Ball dan KnEight se-Indonesia). Serta untuk rekan-rekan penulis di mana pun berada, para insan pembelajar yang luar biasa. Semoga musikalisasi puisi ini dapat dinikmati, bermanfaat dan menginspirasi. Amin…

 

Untuk menikmati MP3 (3.24 MB) musikalisasi puisi ini bisa rekan-rekan download pada link di bawah ini: Tubagus Rangga Efarasti – Hari Berangkat Dewasa.Mp3 atau http://www.mediafire.com/download.php?97fq80512iajh3m

 

Bagi rekan-rekan Blogger yang berminat untuk bergabung di Tamasya Musafir Kata, silakan klik link Fanspage Tammasya Musafir Kata dan Grup Facebook Tamasya Musafir Kata. Mari kita berbagi kebaikan dan kedamaian bersama… *^_^*

 

Salam SGB dan tengat berkarya

Tamasya Musafir Kata

***

1.      Pantang menyerah

Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2.      Selalu Berusaha

Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia dan agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3.      Konsisten

Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaannya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih menganggur.

4.      Solider

Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5.      Jenius

Setan itu paling pintar mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6.      Tanpa Pamrih

Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar.

7.      Suka Berteman

Setan adalah makhluk yang selalu ingin berteman, berteman agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri sendiri dan egois.

 

Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya

Semoga damai bersama, berkenan, bermanfaat dan menginspirasi

Amin

***

Suatu hari saya hadir dalam sebuah forum diskusi yang kebetulan pada waktu itu yang memberikan materi adalah DR. Adian Husaini, tentang Bahayanya Islam Liberal. Pada sesi tanya jawab ada seorang dosen Universitas Islam Negeri yang bertanya, yang intinya adalah beliau menyalahkan filsafat karena telah banyak mempengaruhi para mahasiswa untuk berpikir liberal dan telah membuat mahasiswa sampai meninggalkan kewajibannya menyelesaikan akademik. Dan beliau mempertanyakan kenapa Filsafat harus diajarkan di perguruan tinggi?

“Bagaimana tidak diajarkan, rektornya saja orang Filsafat.” Tukas beliau.

Saya maklumi beliau berpendapat demikian karena mungkin sudah gerah dan jengkel dengan maraknya pemikiran liberal yang sudah menjamur di perguruan tinggi. Tapi saya tidak sepakat kalau dalam masalah ini  yang disalahkan adalah filsafatnya, apalagi kalau membuat statement bahwa filsafat adalah biang kerok dari pemikiran liberal, hingga tak jarang saya dengar ketika orang menyebut filsafat yang terbenak dalam dirinya adalah kengerian.

Perlu kita ketahui bahwa filsafat hanyalah sebuah ilmu, Islam tidak mengharamkan kita untuk mempelajari filsafat. Filsafat hanyalah sebuah metode berpikir, filsafat adalah salah satu cara untuk memahami hakikat segala sesuatu. Dan yang maraknya  pemikiran liberal di seluruh perguruan tinggi adalah bukan salah filsafat sepenuhnya tapi juga salah dari setiap individu yang mempelajari filsafat. Dalam mempelajari filsafat seharusnya dibarengi dengan keimanan dan akidah yang kuat, juga tidak belajar Islam dengan orang barat (kafir). Sekarang banyak sarjana Islam belajar tentang Islam ke barat (kafir). Sangat disayangkan mengapa harus belajar Islam sama orang kafir, seharusnya kitalah yang mengajarkan mereka!

Dan perlu diketahui bahwa pengiriman para sarjana Islam untuk belajar Islam adalah sebuah agenda kristenisasi global, yakni ingin menghancurkan Islam dari dalam, pengaburan akidah umat Islam dengan  liberalisasi, pluralisme, serta isu-isu kesetaraan gender yang sedang nge-trend saat ini. Apakah mereka tidak tahu kalau kesetaraan gender yang mereka usung adalah kesetaraan gender ala barat? Waallahu a’lam.

Pengalaman saya ketika masuk ruang kuliah, ada seorang dosen dalam pengantar kuliahnya mengatakan bahwa untuk mempelajari filsafat harus kita tanggalkan dulu kepercayaan kita terhadap agama. Kita harus bebas dari segala pemikiran yang dogmatif, dengan kata lain yang lebih ekstrim adalah “gantunglah Tuhanmu di belakang pintu”. Di sana seakan pikiran kita berada di dalam mesin cuci, kemudian  otak kita akan dicuci bersih dan dihancurkannya pondasi-pondasi kepercayaan kita yang sudah kita yakini dari dulu.

Saya hanya bisa berdoa dan mohon kepada sang menciptakan akal untuk selalu memberikan saya pencerahan dan hidayah-Nya agar terhindar dari pemikiran-pemikiran yang bisa keluar dari ajaran agama Islam yang benar sebagaimana Rasulullah wariskan kepada umatnya. Terakhir yang ingin saya katakan bahwa belajar filsafat itu tidak mudah, akan tetapi menjadi salah satu golongan manusia yang masuk surga itu jauh amat sukar. Semoga Allah selalu memberikan kita semua, khususnya muslimin kekuatan dan tidak lantas mempelajari filsafat yang sesat. Allahuma sahhil ‘umurana. Amin.

Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya

Semoga damai bersama, berkenan, bermanfaat dan menginspirasi

Amin

***

 

A.    Pengantar

Mengapa manusia berfilsafat? Kekaguman atau keheranan, keraguan atau kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan merupakan 3 hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat.

Plato (filsuf Yunani, guru dari Aristoteles) menyatakan bahwa: “Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan kepada kita untuk menyelidiki dan dari penyelidikan ini berasal dari filsafat.

Berbeda dengan Plato, Agustinus dan Rene Descartes beranggapan lain. Menurut mereka: “Berfilsafat itu bukan dimulai dari kekaguman atau keheranan, tetapi sumber utama mereka berfilsafat dimulai dari keraguan atau kesangsian. Ketika manusia heran, ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir apakah ia sedang tidak ditipu oleh panca inderanya yang sedang keheranan? Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berpikir secara mendalam, menyeluruh dan kritis seperti ini disebut dengan berfilsafat.”

Bagi manusia, berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada dirinya. Apabila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada saat mengalami penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasannya itu manusia berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas, pastilah ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran yang hakiki.

 

B.     Persoalan Filsafat

Ada enam persoalan yang selalu menjadi bahan perhatian para filsuf dan memerlukan jawaban secara radikal, dimana tiap-tiapnya menjadi salah satu cabang dari filsafat yaitu: ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan.

1.      Tentang “Ada”

Persoalan tentang ada (being) menghasilkan cabang filsafat metafisika; dimana sebagai salah satu cabang filsafat metafisika sendiri mencakup persoalan ontologis, kosmologi (perkembangan alam semesta) dan antropologi (perkembangan sosial budaya manusia). Ketiga hal tersebut memiliki titik sentral kajian tersendiri.

2.      Tentang “Pengetahuan” (knowledge)

Persoalan tentang pengetahuan (knowledge) menghasilkan cabang filsafat epistemologi (filsafat pengetahuan). Istilah epistemologi sendiri berasal dari kata episteme dan logis. Episteme berarti pengetahuan dan logis berarti teori. Jadi, epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.

3.      Tentang “Metode” (method)

Persoalan tentang metode (method) menghasilkan cabang filsafat metodologi atau kajian/ telaah dan penyusunan secara sistematik dari beberapa proses dan asas-asas logis dan percobaan yang sistematis yang menuntun suatu penelitian dan kajian ilmiah; atau sebagai penyusun ilmu-ilmu vak.

4.      Tentang “Penyimpulan”

Logika (logis) yaitu ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir tepat dan benar. Dimana berpikir adalah kegiatan pikiran atau akal budi manusia. Logika sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu logika ilmiah dan logika kodratiah. Logika bisa menjadi suatu upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: “Adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat yang benar? Apa yang membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang salah? Filsafat logika ini merupakan cabang yang timbul dari persoalan tentang penyimpulan”.

5.      Tentang ”Moralitas” (morality)

Moralitas menghasilkan cabang filsafat etika (ethics). Etika sebagai salah satu cabang filsafat menghendaki adanya ukuran yang bersifat universal.

6.      Tentang ”Keindahan”

Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang lahir dari persoalan tentang keindahan. Merupakan kajian kefilsafatan mengenai keindahan dan ketidakindahan. Lebih jauhnya lagi, mengenai sesuatu yang indah terutama dalam masalah seni dan rasa serta norma-norma nilai dalam seni.

C.    Ciri dan Permasalahan Filsafat

Filsafat tidak menyangkut fakta. Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan bukan merupakan pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat faktual. Filsafat juga menyangkut keputusan-keputusan tentang nilai. Pertanyaan-pertanyaan atau persoalan filsafat merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keputusan tentang nilai-nilai.

Pertanyaan filsafat bersifat kritis. Salah satu tugas utama seorang filsuf adalah mengkaji dan menilai asumsi-asumsi, mengungkapkan maknanya dan menentukan batas-batas aplikasinya.

Pertanyaan kefilsafatan bersifat spekulatif. Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan melampaui batas-batas pengetahuan yang telah mapan.

Pertanyaan kefilsafatan bersifat sinoptik atau holistik, dengan pertanyaan seperti ini berarti filsafat memandang suatu masalah secara integral.

D.    Karakteristik Pemikiran Kefilsafatan

Dalam pandangan. Kunto Wibisono (1997) dinyatakan bahwa karakteristik Berpikir Filsafat, yaitu :

  1. Menyeluruh/ Universal: Melihat konteks keilmuan tidak hanya dari sudut pandang ilmu itu sendiri,
  2. Mendasar: Mencari kebenaran dari ilmu itu sendiri,
  3. Spekulatif: Didasarkan kepada sifat manusia yang tidak dapat menangguk pengetahuan secara keseluruhan,
  4. Radikal: berpikir sampai ke akar-akarnya
  5. Konseptual: memiliki kaidah-kaidah keilmuan yang jelas,
  6. Bebas : bebas dari nilai-nilai baik moral, etika, estetika,
  7. Bertanggung Jawab: hasil pengkajian dapat dipertanggungjawabkan sebagai satu bidang kajian ilmiah.

Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya

Semoga damai bersama, berkenan, bermanfaat dan menginspirasi

Amin

***

Ki Hajar Dewantara

Posted: May 21, 2012 in Biografi

Biodata

Nama               : Ki Hajar Dewantara

Nama Asli       : Raden Mas Soewardi Soeryaningrat

Lahir                : Yogyakarta, 2 Mei 1889

Wafat               : Yogyakarta, 28 April 1959

Pendidikan

  1. Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda),
  2. STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat
  3. Europeesche Akte, Belanda Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Karir

  1. Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara,
  2. Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1922,
  3. Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.

Organisasi

  1. Boedi Oetomo 1908,
  2. Pendiri Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912.

Penghargaan

  1. Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional,
  2. Pahlawan Pergerakan Nasional (surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Ia kemudian menulis untuk berbagai surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express dan Utusan Hindia. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat anti kolonial bagi pembacanya. Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Budi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propaganda. Perkenalannya dengan Dr. Danudirdja Setyabudhi (F.F.E Douwes Dekker), dr. Cipto Mangunkusumo dan Abdul Muis melahirkan gagasan baru untuk mendirikan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia, yakni Indische Partij. Partai yang berdiri pada tahun 1912 ini memiliki keyakinan bahwa nasib masa depan penduduk Indonesia terletak di tangan mereka sendiri, karena itu kolonialisme harus dihapuskan. Namun sayang, status badan hukumnya ditolak oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Mereka bertiga kemudian membentuk Komite Bumiputera, sebuah organisasi tandingan dari komite yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda. Bersamaan dengan itu, RM Suwardi kemudian membuat sebuah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang menyindir ketumpulan perasaan Belanda ketika menyuruh rakyat Indonesia untuk ikut merayakan pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Tulisan yang dimuat dalam koran de Express milik Dr. Douwes Dekker ini dianggap menghina oleh Pemerintah Belanda sehingga keluar keputusan hukuman bagi beliau untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Usaha pembelaan yang dilakukan Dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo tidak membawa hasil, bahkan mereka berdua terkena hukuman pengasingan juga. Karena menganggap pengasingan di pulau terpencil tidak membawa manfaat banyak, mereka bertiga meminta kepada Pemerintah Belanda untuk diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa inilah kemudian RM Suwardi banyak mendalami masalah pendidikan dan pengajaran di Belanda hingga mendapat sertifikasi di bidang ini.

Setelah pulang dari pengasingan, RM Suwardi bersama rekan-rekan seperjuangan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik. Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi 7 pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam pendidikan ini nilai rohani lebih tinggi dari nilai jasmani. Pada tahun 1930 asas-asas ini dijadikan konsepsi aliran budaya, terutama berhubungan dengan polemik budaya dengan Pujangga Baru. Selain mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Taman Siswa, RM Suwardi juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Belanda merintangi perjuangannya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi beliau dengan gigih memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu dapat dicabut. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Suwardi Suyaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, dan semenjak saat itu beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dalam zaman Pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) di tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1957, Ki Hajar menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Beliau meninggal dunia pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Guna menghormati nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan nasional, Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1959 menetapkan beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dan tanggal kelahirannya kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Pihak penerus Perguruan Taman Siswa, sebagai usaha untuk melestarikan warisan pemikiran beliau, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya di Yogyakarta. Dalam museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hajar sebagai pendiri Taman Siswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hajar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Ki Hajar Dewantara memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan. Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia.

Pandangan Umum dan Pendapat Penulis

Ki Hajar Dewantara adalah putra bangsa yang patut kita banggakan keberadaannya .Ia adalah tokoh dan sekaligus sebagai “Bapak Pendidikan Nasional”. Konsep-konsep dan upaya-upaya pendidikannya telah menjadi dasar bagi perkembangan proses pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Perjuangannya dalam bidang pendidikan menjadi tonggak sejarah kebangkitan pendidikan di Indonesia. Pemikiran-pemikirannya yang brilian dan tekadnya yang kuat untuk memperbaiki nasib bangsa, tercermin dari tulisan-tulisannya yang sangat komunikatif, tajam, dan patriot sehingga membangkitkan semangat anti kolonial bagi pembaca- pembacanya pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Selain sebagai wartawan muda beliau juga aktif  dalam organisasi sosial dan politik.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan bukannya tanpa alasan, hal in dikarenakan sifat diskriminatif pemerintah Belanda terhadap hak dan pelaksanaan pendidikan bagi bangsa Indonesia. Beliau juga beranggapan bahwa keadaan semacam ini tidak akan lenyap jika dilawan hanya dengan pergerakan politik saja. Tetapi juga harus menyebarkan benih pentingnya hidup merdeka dengan jalan pengajaran yang disertai pendidikan nasional. Hak inilah yang membuatnya meninggalkan jalur politik praktis dan berjuang dijalan pendidikan.

Ki Hajar Dewantara adalah sosok tokoh pendidikan yang berwawasan- nasional. Dengan berbekal pendidikan ketimuran yang dilengkapi dengan pendidikan barat, ia menjadikan dirinya pakar pendidikan yang berpandangan modern dan berwawasan sangat luas pada masanya. Meskipun ia banyak belajar dari filsuf Froebel dan Montessori sewaktu di Belanda, paham ketimurannya tetap melekat dan tak pernah luntur. Sikap nasionalismenya yang sangat kokoh tidak membuat ia hanyut dalam budaya barat. Sebaliknya, ia bahkan berupaya memadukan nilai- nilai modernisasi pendidikan yang dibawanya dari eropa dengan nilai– nilai luhur yang ada di tanah air. Gagasan-gagasan beliau yang  terkenal yaitu sistem “among” atau “Among Methode” yaitu anak mempunyai kodrat alamnya sendiri,kita sebagai pendidik hanya menuntun agar kodrat-kodrat bawaan anak itu  tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik.

Adapun kewajiban  seorang guru adalah:

  1. Guru harus dapat digugu dan ditiru,
  2. Ing ngarso sung tolodo (di depan menjadi teladan),
  3. Ing madya mangun karso (di tengah-tengah membangkitkan hasrat atau kehendak),
  4. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Tamasya Musafir Kata

Salam SGB dan tengat berkarya

Semoga damai bersama, berkenan, bermanfaat dan menginspirasi

Amin

***